Review Buku #2 – Daughter of Deep Silence (2015)

cover

I’m the daughter of murdered parents.
I’m the friend of a dead girl.
I’m the lover of my enemy.
And I will have my revenge.

Next, novel karangan Carrie Ryan ini cukup simple dalam penulisannya. Gue suka konsep ceritanya dan gayanya yang membuat sedikit plot hole di awal, membuat pembaca jadi penasaran about the truth. Dan akhirnya di ending, semua plot hole itu diisi dengan kenyataan yang tidak dapat diduga oleh pembaca.

Cerita novel ini dibuka dengan adegan dimana si heroine, Frances Mace, selamat dari peristiwa kapal Persephone. Ketika itu ia berumur 14 tahun, begitu pula dengan sabahatnya yang bernama Elizabeth Anne O’Martin, atau dipanggil Libby. Keluarga France dan keluarga Libby sedang berada di kapal Persephone, mereka menikmati perjalanan dengan sukacita. Tapi semua itu berubah menjadi pembunuhan massal. Ada sekelompok teroris yang menembaki seluruh penumpang kapal. Orang tua France dan ibu Libby meninggal ditembak. France dan Libby kabur, terjun ke laut dengan kapal kecil untuk menyelamatkan diri. Mereka terapung di laut selama 7 hari, tanpa makanan dan minuman. Walaupun akhirnya ada yang datang menemukan mereka, tapi Libby terlanjur meninggal.

France shock atas semua kejadian yang telah terjadi dan ia merasa bersalah kepada ayah Libby, yaitu Cecil. Diketahui bahwa yang selamat dari peristiwa ini hanya dirinya dan 2 orang lainnya, yaitu Senator Alastair Wells dan anaknya Grey, yang merupakan pacar dari France. Mereka sudah diselamatkan 3 hari sebelum Libby selamat. Libby yang merasa hampa dan tidak mempunyai siapapun lagi, merasa sedikit senang ketika mendengar bahwa Grey selamat. Tapi perasaan itu berubah menjadi benci dan dendam mendalam. Senator Wells dan Grey diwawancarai tentang apa yang terjadi pada kapal Persephone, tapi Wells berbohong tentang penyerangan teroris itu. Ia menceritakan pada para wartawan bahwa ada ombak besar yang menenggelamkan kapal dan semua penumpangnya. Wells juga mengiyakan kebohongan ayahnya itu. France merasa dirinya sudah mati semenjak peristiwa itu.

If anything, revenge is the absence of emotion. It’s pure, calculated thought stripped bare of entangling emotions. It’s cold, deliberate action.

Kemudian ia dirawat oleh Cecil dan dijadikan sebagai “Libby ke dua” oleh Cecil. Cecil melakukan itu untuk bisa selalu mengenang Libby di dalam diri France. Selama 4 tahun, France mengubah hidupnya total mirip seperti Libby. Dari tingkah laku, cara berbicara dan bahkan penampilan. Ia melakukan operasi wajah agar dapat mirip seperti Libby. Tapi karena dari awal wajahnya sudah sedikit mirip Libby, ia hanya tinggal merombak sedikit dan akrhinya tidak ada yang mengenali tanda France dari dirinya. Setelah kematian Cecil, France memutuskan untuk memulai rencana pembalasan dendamnya kepada keluarga Wells. Dibantu oleh Shepherd, ia mendekati keluarga Wells agar dapat merusak hidup mereka dari dalam. Tapi tidak disangka, rencana balas dendam ini dihantui rasa keraguan karena perasaan cintanya pada Grey yang muncul lagi. Ia pun harus memilih antara balas dendam yang sudah dipendamnya selama 4 tahun atau rasa cinta yang mungkin saja akan berakhir saling menyakitkan satu sama lain. JRENG JRENG

Karena banyak plot hole yang ada dari awal, gue pun jadi banyak mikir tentang ending yang akan muncul. Tapi ternyata dugaan gue salah total. Ini yang menjadi nilai plus dalam buku ini. Gue bisa melihat cara pintar si France dalam menghayati dirinya sebagai Libby, tindakannya yang dapat menipu semua orang bahwa France sudah mati, ekspresinya yang dapat meyakinkan semua orang bahwa dia hanya seorang korban Persephone yang lupa ingatan, dan kemantapan niatnya untuk balas dendam.

Luckily, rage is a powerful emotion, strong enough not just to burn away pain but also to sear back the whispering tendrils of fear.

Ada quote yang menurut gue menarik :
People do shitty things for shitty reasons.” – Shepherd

Quote yang ini menurut gue itu benar adanya. Banyak orang yang melakukan shitty things untuk sebuah alasan yang tidak berguna, dan mungkin saja hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri. Nyokap gue pernah bilang, sebaik apapun orang di sekitar kita, bahkan keluarga sendiri, tidak ada yang benar-benar baik. Tidak sedikit orang yang besikap baik karena ada niat tersembunyi. Gue tidak sepenuhnya setuju dengan statement yang nyokap bilang.
Walaupun begitu, gue tau kalau susah menjadi orang baik di dunia yang kejam ini. Karena itu, gue hanya bisa berhati-hati dengan semua orang di sekitar. Bahkan, untuk bisa bertahan dalam dunia kejam ini, gue mungkin harus bersifat munafik juga agar tidak mendapat masalah. Munafik disini bukan “bertingkah baik untuk mendapat sesuatu” atau “menusuk orang lain dari belakang”. Munafik disini adalah “tetap tersenyum pada orang yang kita benci” dan “bersikap baik pada orang yang kita benci”.

Iya, manusia itu tidak bisa hidup sendiri. Tapi manusia juga tidak bisa bergantung pada orang lain terus menerus. Karena rasa susah, sakit, kecewa dan menderita yang kita alami hanya bisa dirasakan oleh diri sendiri. Bukan keluarga, sahabat atau juga bukan kamu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s