Review Buku #7 – Hamlet (2008)

cover

Do you believe in ghosts? I don’t believe in anything you can see or touch or taste

Ide cerita ini bukan original dari si John Marsden. Gue juga ga tau juga sih aslinya darimana. Tapi yang pastinya cerita ini ada versi teater dan filmnya.

Hamlet, seorang pangeran mahkota dari kerajaan Elsinore di Denmark. Ketika kecil, ayahnya meninggal karena diracuni. Selang 2 bulan setelah ayahnya meninggal, ibunya, Gertrude, langsung menikah lagi dengan saudara ayahnya sendiri. Hamlet kecewa dengan tingkah ibunya tersebut. Hingga suatu malam, ia bertemu dengan hantu ayahnya. Hantu ayahnya tersebut menyuruh Hamlet untuk membalaskan dendamnya. Ternyata ayahnya diracuni oleh saudaranya sendiri, Claudius, yang sekarang sudah menjadi raja. Awalnya Hamlet tidak percaya, apalagi dengan sosok hantu ayahnya yang bisa dibilang bukan hal wajar. Tapi karena ia menyayangi ayahnya, ia pun mempercayai hal tersebut dan memutuskan untuk mencari kesempatan untuk membuktikan kejahatan si ayah tirinya itu.

Nothing is good or bad, unless thinking makes it so.

Hamlet mempunyai sahabat masa kecil bernama Horatio, seorang rakyat jelata yang tidak mempunyai darah bangsawan. Mereka tumbuh besar dan selalu bersama. Tapi seiring waktu, Hamlet yang sudah semakin dewasa, hubungan dekat mereka tidak lagi menjadi sahabat. Horatio menganggap Hamlet sebagai seseorang yang harus dihormati dan Hamlet sendiri dengan sikapnya yang sekarang menjadi pembuat onar pun menerima perlakuan tersebut. Sikap Hamlet yang nakal itu hanya untuk menunjukkan kebenciannya pada Claudius. Claudius menyadari hal tersebut dan menganggap Hamlet sebagai sumber masalah. Selain Horatio, Hamlet juga mempunyadi sahabat masa kecil lain. Ophelia merupakan anak dari Polonius, seorang penasehat kerajaan. Ophelia mempunyai kakak bernama Laertes yang sedang menuntut ilmu di luar negeri. Hamlet dan Ophelia sebenarnya saling menyukai, tapi mereka tidak berani menunjukkan perasaan masing-masing.

Konflik di novel ini dimulai ketika sebuah kelompok teater datang ke kerajaan Elsinore untuk mementaskan sebuah pertunjukan. Hamlet mengambil kesempatan itu untuk melawan Claudius. Caranya adalah dengan menyuruh kelompok teater tersebut untuk mementaskan naskah cerita yang dibuat oleh Hamlet. Cerita tersebut mengenai tentang seorang raja yang dibunuh karena diracuni oleh saudaranya sendiri. Claudius tersinggung dan marah. Pertunjukan teater itu akhirnya berakhir dengan ricuh. Setelah insiden teater itu, berlanjut lagi peristiwa dimana Hamlet secara tidak sengaja membunuh Polonius. Hal itu karena Polonius menguping pembicaraan Hamlet dengan sang ratu. Pembicaraan tersebut tentang Hamlet yang membenci Claudius dan meminta ibunya tersebut untuk menjauhi Claudius. Karena emosi yang mendadak keluar, Hamlet tidak sengaja membunuh Polonius. Peristiwa itu semakin membuat ricuh suasana kerajaan. Hamlet dikirim ke Inggris tapi ia kembali lagi karena tidak nyaman berada disana.

If your heart dislikes anything, obey it. Trust your instincts, which are good ones.

Seketika dia kembali, ia shock karena mendengar Ophelia bunuh diri karena stress ditinggal ayahnya. Hamlet merasa menyesal atas tindakannya sebelumnya. Ia mengutarakan pada Horatio bahwa ia akan menjadi lebih baik. Horatio mempercayai janji sahabatnya itu. Di lain pihak, Laertes kembali ke kerajaan dengan hawa marah dalam dirinya. Ia menghadap raja Claudius dan menuntut cerita sebenarnya. Claudius menceritakan pada Laertes bahwa sumber masalahnya adalah Hamlet. Raja Claudius dan Laertes pun bekerja sama untuk membunuh Hamlet dengan racun. Tapi mereka tidak tahu, bahwa akhir dari suasana ricuh di kerajaan itu akan tetap berakhir tidak bahagia.

Novel ini bersetting kerajaan dan karena itu bahasanya juga formal. Banyak kalimat yang agak muter-muter disertai berbagai kiasan. Karena gue emang bukan cewek yang puitis, kecuali kalo dipuitisin lawan jenis (kemudian oot), jadi gue puyeng baca ini novel. Dengan segala jiwa dan raga, gue akhirnya berhasil melumat seluruh isi cerita *clap hands* Ya walaupun banyak chapter yang gue baca berulang kali karena sering ga nyambung di otak.

Not even Hercules could stop a cat from meowing or a dog from barking.

Dari awal hingga akhir cerita, yang bikin gue penasaran adalah, siapa nama ayah kandung Hamlet? Serius deh, gue sampai bolak balik halaman dan tetap ga ketemu nama ayahnya Hamlet disebutin. Overall, yang suka cerita dengan genre historical, ini bisa jadi salah satu pilihan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s