Review Buku #17 – Eleanor & Park (2012)

cover

When you’re 16, and you have nothing and everything to lose.

Banyak bertebaran review positif tentang novel-novel karya Rainbow Rowell. Dengan rasa penasaran, jadinya gue mulai baca dari buku pertamanya yang membawanya dikenal di kalangan reader. So here again.

Buku ini menceritakan tentang 2 remaja di masa SMA-nya pada tahun 1986. Mereka bernama Eleanor dan Park. Eleanor, perempuan dengan rambut merah keritingnya baru saja pindah sekolah. Di sekolah barunya, ia menjadi target bully karena penampilannya yang terlihat berantakan. Sebenarnya dirinya tidak begitu. Tapi keadaan ekonomi yang kurang beruntung dalam hidupnya, membuat ia tidak bisa berpenampilan seperti perempuan pada umumnya. Orang tuanya sudah bercerai dan ibunya baru saja menikah dengan pria lain. Eleanor membenci ayah tirinya tersebut karena sikapnya yang kasar. Hidupnya semakin terasa berat karena dengan keuangan yang minim di keluarganya itu, masih ada 4 adik yang mesti ditanggung hidupnya. Sedangkan Park, pria korea yang berasal dari keluarga yang mapan. Orang tua yang akur dan 1 saudara lelaki yang normal. Mereka tidak kekurangan dan Park hidup layak pria remaja pada umumnya.

What are the chances you’d ever meet someone like that? Someone you could love forever, someone who would forever love you back? And what did you do when that person was born half a world away? The math seemed impossible.

Baik di sekolah maupun di bis sekolah selama perjalanan berangkat sekolah, Eleanor selalu diejek dan ditertawakan. Tapi semua mulai berubah ketika Eleanor duduk sebangku dengan Park di dalam bis sekolah. Awalnya posisi duduk mereka itu karena ketidaksengajaan. Park yang awalnya merasa risih dengan berada di dekat Elanor, berubah menjadi tertarik dan tanpa ia sadari selalu melihat dimana Eleanor berada. Begitu juga dengan Eleanor.

Seiring berjalannya hari, posisi duduk mereka tersebut menjadi permanen. Selama di posisinya tersebut, mereka mulai mengobrol. Awalnya cuma obrolan kecil dan tidak penting. Kemudian berlanjut ke topik tentang minat masing-masing. Park yang mempunyai koleksi tape lagu dan komik, meminjamkan barangnya tersebut ke Eleanor. Ternyata obrolan mereka berdua nyambung. Dan tidak aneh bila muncul perasaan suka di antara mereka.

“And you look like a protagonist. You look like the person who wins in the end. You’re so pretty, and so good. You have magic eyes and you make me feel like a cannibal.”
“You’re crazy”

Park mengaku sangat cinta pada Eleanor. Ia mementingkan Eleanor di atas segalanya. Walaupun teman-temannya melihat dia secara aneh ataupun ibunya yang kurang menyukai Eleanor, Park tetap terus terang dengan apa yang ia cintai, yaitu Eleanor. Eleanor sendiri juga cinta dengan Park. Ia merasa bahwa ini cinta pertama yang manis. Walaupun dia tidak ada pengalaman tentang berpacaran, tapi dengan cara Park memperlakukannya, Eleanor merasa nyaman. Walaupun begitu, Eleanor khawatir bila hubungannya dengan Park ini diketahui oleh ayah tirinya. Ia yakin bahwa ayah tirinya akan mengusirnya dan bahkan mencelakakan Park. Tapi apa yang bisa dilakukan oleh remaja yang masih di bawah umur? Walaupun cinta datang menghampiri, tetap saja banyak yang harus dipertimbangkan untuk masa depan.

Eleanor was right. She never looked nice. She looked like art, and art wasn’t supposed to look nice; it was supposed to make you feel something.

Awalnya gue rada bingung, dan sampai akhir cerita gue tetap bingung akan 1 hal. 1 hal itu yaitu tentang artis / lagu / film dan apapun yang disebutkan di buku ini. Karena semua nama hiburan yang disebutkan, merupakan suatu trend yang terkenal jaman dulu. Cuma itu saja sih minusnya bagi gue. Sisanya gue suka dengan cerita Eleanor dan Park. Waktu baca kisah mereka, gue berpikir tentang beginilah pengalaman first love. Bodoh. Manis. Lucu. Pahit. Semua bercampur jadi satu.  Kisah cinta pertama yang bakal menyesal bila lewatkan untuk disimak.

I love your name. I don’t want to cheat myself out of a single syllable.

Hal yang dapat gue petik di novel ini adalah first love tidak akan pernah bisa terealisasikan (menurut banyak pengalaman anonymous di luar sana). Karena first love itu nama lainnya cinta monyet. Iya. Kita akan merasa perasaan suka yang teramat besar pada doi, bahkan sampai tidak melihat sekitar. Tetapi cinta pada jaman sekolah menurut gue bukanlah prioritas dalam hidup. Cinta bisa dicari. Masa depan harus digapai. Udah gitu aja pendapat gue *bingung sendiri* *please abaikan*

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s