Review Buku #24 – All The Bright Places (2015)

cover

Is today a good day to die? And if not today—when?

Berlanjut lagi buku yang tokohnya mengalami penyakit bipolar. Kebetulan buku ini ada adatapsi movienya. Tapi gue belum niat untuk menonton movienya, karena biasanya sumber cerita aslinya lebih bagus. Jadilah gue bertemu dengan buku ini. Menceritakan tentang pria yang mempunyai masalah berat di hidupnya dengan gadis yang bersedih karena ditinggal saudaranya.

Theodore Finch sangat terobsesi dengan kematian. Ia sendiri sudah berpikir banyak cara untuk mengakhiri hidupnya. Tapi setiap ia mencoba bunuh diri, sesuatu yang baik, apapun itu bentuknya, menghentikan dirinya. Violet Markey hidup untuk masa depannya sambil menghitung hari dimana kelulusan datang. Lalu ia bisa pergi dari kota dan menghilangkan kepedihan hatinya akan saudara perempuannya yang baru saja meninggal.

You are all the colors in one, at full brightness.

Finch dan Violet pertama kali bertemu di atap sekolah. Keduanya yang sama mempunyai keinginan untuk lompat bunuh diri, tidak jadi melanjutkan tindakan mereka. Entah siapa yang menyelamatkan siapa. Sejak pertemuan pertama mereka, tumbuh rasa penasaran di diri Finch kepada Violet. Lalu rasa tertarik Finch terpenuhi ketika mereka ditugaskan bersama untuk mengerjakan project sekolah dimana mereka harus mencari “lokasi menakjubkan” di kota mereka. (Gue bingung bentuk bahasa Indonesianya. Ibarat keajaiban dunia seperti menara Eiffel atau Candi Borobudur).

Ada peraturan yang dibuat Finch dalam kegiatan pencarian lokasi tersebut. 1) Tidak boleh memakai handphone selama pencarian. Jadi pencarian lokasinya hanya dengan membaca peta. 2) Di setiap lokasi yang dikunjungi, harus meninggalkan suatu hal dalam bentuk apapun. Sebagai tanda bahwa mereka pernah datang ke lokasi itu.

Sometimes there’s beauty in the tough words- it’s all in how you read them.

Kemudian mulailah mereka melakukan project tersebut seiring dengan perkembangan hubungan mereka. Finch dan Violet ternyata mempunyai minat yang sama dalam “kosakata”. Mereka sering membahas kosakata unik dan kalimat yang mempunyai arti. Perbedaannya adalah Finch suka menulis kata unik di secarik kertas dan menempelkannya di dinding kamar. Kata – kata itu ia simpan untuk inspirasinya membuat lagu. Sedangkan Violet mempunyai situs yang ia jalankan bersama saudaranya dulu. Di situs itu, Violet dan saudaranya sering mengutarakan isi hatinya dalam artikel.

Finch mempunyai penyakit bipolar dan tingkah + emosinya yang naik turun. Tingkahnya susah ditebak dan gue sedikit kesusahan untuk mendalami sifatnya. Walaupun begitu, Finch adalah pria yang so sweet terhadap Violet. Ia membuat facebook hanya untuk chat dengan Violet dan isi chatnya juga gemesin. Quotes bertebaran. Yang paling berkesan adalah panggilan Finch pada Violet, yaitu “Ultraviolet Remarkeyable” ❤

We are all alone, trapped in these bodies and our own minds, and whatever company we have in this life is only fleeting and superficial.

Ending yang membuat gue menangis. Jenniver juga lumayan pintar menggambarkan klimaks ceritanya dan berakhir dengan perelaan atas perginya orang yang disayangi. Salah satu buku Young Adult yang worth it. =)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s