Review Buku #32 – A Court of Thorns and Roses (2015)

a_court_of_thorns_and_roses

Here we are, with the fate of our immortal world in the hands of an illiterate human.

Setelah perang besar 5 abad yang lalu, negeri manusia dan negeri faerie yang bernama Prythian dipisahkan oleh tembok. Tidak ada manusia yang berani melewati tembok pembatas. Kisah ini bermula ketika seorang gadis membunuh salah satu High Fae dari Prythian dan semenjak itu hidupnya tidak sama lagi.

Feyre adalah gadis berusia 19 tahun yang sudah menanggung beban keluarganya. Delapan tahun yang lalu, keluarganya bangkrut dan harta mereka semua disita. Feyre dan keluarganya terpaksa tinggal di desa kecil dengan hidup yang teramat susah. Ayah Feyre pincang dan tidak ada usaha untuk mencari pekerjaan. Sedangkan dua kakak perempuan Feyre, Nesta dan Elain juga tidak mau melakukan apapun. Karena janji pada ibunya, Feyre secara sukarela menafkahi dan memberi makan keluarganya. Selama ini Feyre berburu hewan di hutan dan setengah dari hasil buruannya dijual ke pasar. Hanya itu yang bisa membuat keluarganya tetap hidup sampai sekarang.

Musim dingin datang dan melakukan perburuan di hutan menjadi semakin sulit. Ketika Feyre menemukan serigala berukuran besar, tepatnya seukuran kuda, ia tahu bahwa serigala itu adalah jelmaan dari Fae. Fae hanya bisa dibunuh dengan senjata yang terbuat ash wood. Seharusnya Feyre lari. Tetapi ia mengeluarkan panah ash wood miliknya dan memanah Fae tersebut. Anehnya Fae tersebut mati tanpa melakukan perlawanan. Feyre pun mengambil kulit si serigala dan menjualnya ke pedagang di pasar dengan harga yang yang sangat menggiurkan. Tidak lama setelah itu, ada mahluk buas besar yang juga jelmaan Fae datang ke rumahnya. Mahluk buas itu marah besar karena temannya dibunuh. Feyre diberi 2 pilihan, ikut dengan Fae ke Prythian atau mati di hadapan keluarganya. Feyre terpaksa memilih pilihan pertama dan dibawa pergi melewati tembok pembatas.

Because your human joy fascinates me—the way you experience things, in your life span, so wildly and deeply and all at once, is … entrancing. I’m drawn to it, even when I know I shouldn’t be, even when I try not to be.

Negeri Pryhtian terbagi menjadi tujuh wilayah dengan masing – masing dipimpin oleh High Lord. Tujuh wilayah court terdiri dari Spring, Summer, Autumn, Winter, Dawn, Day dan Night.Mahluk buas yang membawa Feyre ke Prythian ternyata adalah seorang High Lord di Spring Court bernama Tamlin. Tamlin mempunyai pendamping setia bernama Lucien yang seorang High Fae. Feyre berpikir bahwa ia akan dijadikan budak, sesuai rumor yang selama ini beredar di negeri manusia. Tapi Feyre malah diperlakukan dengan sangat baik. Ia diperlukan seperti putri yang didampingi banyak pelayan yang mengurusnya. Feyre boleh melakukan apa saja asalkan tidak boleh pergi dari Prythian. Feyre juga tidak boleh keluar dari lingkungan tempat tinggalnya sekarang. Tamlin juga menjanjikan bahwa kehidupan keluarga Feyre sekarang sudah tidak susah lagi. Dimulailah kehidupan Feyre di rumahnya yang baru.

Because I wouldn’t want to die alone, because I’d want someone to hold my hand until the end, and awhile after that. That’s something everyone deserves, human or faerie.

Tamlin bercerita bahwa sejak hampir lima puluh tahun yang lalu, ada wabah penyakit yang menyerang Prythian. Penyakit tersebut membuat kekuatan sihir para Fae melemah. Ketika gelombang penyakit itu muncul, Spring Court sedang mengadakan pesta topeng. Sejak saat itu topeng yang dipakai semua Fae di Spring Court tidak bisa dilepas. Karena kekuatan sihir yang perlahan melemah, banyak mahluk berbahaya yang memasuki negeri Prythian. Selama tinggal di Spring Court, Feyre sudah bertemu dengan mahluk yang disebut Bogge, Puca dan Naga.Feyre hampir celaka saat itu dan ia sadar bahwa tempat teraman di Prythian hanya di dekat Tamlin.

Hari demi hari berlalu dan musim berganti. Banyak kenangan indah yang dialami Feyre di Spring Court. Feyre bebas melakukan hobinya yang suka melukis. Feyre pernah dibawa pergi untuk melihat Starlight dan berenang bersama Tamlin, atau berdansa sepanjang hari bersama Tamlin. Feyre pun semakin tertarik dengan Tamlin, baik dalam hal pertemanan maupun cinta. Ada suatu saat ketika perayaan Fire Night dilaksanakan, Tamlin kehilangan kontrolnya dan menggigit Feyre. Ketika mereka berciuman untuk pertama kali, Feyre yakin bahwa perasaannya pada Tamlin ini nyata.

“I love you,” he whispered, and kissed my brow. “Thorns and all.”

Hanya saja kehidupan tenang Feyre di Spring Court tidak berlangsung terus menerus. Mulai ada kejadian dimana Fae dari court lain sekarat atau ditemukan mati di wilayah Spring Court. Ketika Rhysand datang ke Spring Court dan mengancam Tamlin untuk segera menyerah dan tunduk pada Amarantha, Feyre tahu bahwa akan ada suatu bahaya yang akan datang. Saat itu Feyre belum tahu identitas sebenarnya musuh dari Tamlin. Karena Tamlin khawatir dengan keselamatan Feyre, ia menyuruh Feyre untuk kembali ke negeri manusia dan pergi dari Prythian. Saat kembali ke keluarganya, Feyre melihat Tamlin menepati janjinya. Kehidupan keluarganya sudah sangat berubah dengan harta yang melimpah. Keluarganya dibuat lupa tentang Feyre yang sempat ditangkap oleh Fae. Hanya Nesta yang sadar bahwa Feyre dibawa pergi ke Prythian, bahkan Nesta menyusul Feyre walaupun ia hanya bisa sampai di tembok pembatas.

Feyre merasa bahwa Tamlin dalam bahaya, ia kembali ke Prythian dan menemukan bahwa tidak ada seorang pun di Spring Court. Rumah tempat dirinya dan Tamlin tinggal dalam keadaan berantakan, seperti ada yang menyerbu tempat tersebut. Hanya ada Alis, salah satu pelayan Feyre yang masih disana. Feyre memaksa Alis untuk menceritakan apa yang sebenarnya. Alis menceritakan banyak hal yang selama ini disembunyikan di Spring Court, terutama tentang kutukan Tamlin yang diberikan oleh Amarantha. Feyre pergi menyelamatkan Tamlin dan ketika bertemu dengan Amarantha, wanita jahat itu berkata bahwa ada syarat untuk membebaskan Tamlin. Feyre harus melewati tiga tantangan dan memecahkan sebuah teka – teki dari Amarantha. Bila gagal, selain Tamlin yang tidak bisa dibebaskan, Feyre juga akan mati di tempat tersebut.

“I love you,” I said. “No matter what she says about it, no matter if it’s only with my insignificant human heart. Even when they burn my body, I’ll love you.”

Jangan percaya begitu saja alur cerita yang dibuat Sarah J. Maas. Pengalaman gue setelah membaca Throne of Glass, awal cerita di buku pertamanya terlihat tidak begitu berat. Gue berpikir ini tentang seorang assassin dibumbui kehidupan cinta segitiganya dengan pangeran mahkota dan pengawalnya. Tapi semua berubah ketika menjelang halaman terakhir. Lalu setiap buku seterusnya, perkembangan ceritanya semakin tegang. Begitu pula dengan series ACOTAR ini. Gue awalnya sedikit bosan membaca cerita Feyre dimana ia hahahihi senyam senyum dengan Tamlin. Dan kebosanan itu melanda gue hampir setengah cerita dari buku. Tapi setelah terungkap kebohongan yang selama ini disembunyikan di Spring Court, gue jadi tegang. Lalu semakin tegang ketika Feyre sudah ada di Under the Mountain, tempat Amarantha berada. Suasana musim seminya langsung berubah dark. Ditambah lagi dengan perjanjian Feyre ke Rhysand. Isi perjanjiannya singkat saja, Feyre jadi semacam budak di bawah kendali Rhysand. Tapi sebenarnya ada maksud tersembunyi dari tingkah Rhysand yang “bad” tersebut. Im in awe for him.

And there he was—my High Lord, my beloved, kneeling before me. “I love you,” I said, and stabbed him.

Tokoh favourite gue tentu Rhysand. Dari awal doi nongol, gue ada feeling tokoh ini bakal ada peran sangat besar. Karena tidak sabar sama kontribusinya, gue sampai ngintip beberapa adegan di buku ketiga cuma untuk Rhysand. Gladfully dugaan gue benar. Harusnya sih gue suka sama Tamlin, secara jelas banget dia itu tokoh utama, apalagi dengan tingkah manisnya ke Feyre. Cuma entah kenapa karena dari awal gue ga ada feeling ke Tamlin. Tingkahnya terlalu biasa. Gue bahkan kesal banget ketika Tamlin cuma bisa diam saat Feyre datang ke Under the Mountains. Dan karena kita membicarakan Sarah J. Maas yang selalu mementingkan point development character, jangan kaget kalau nanti kakak perempuan Feyre akan ada peran di perkembangan cerita.

Tomorrow—there would be tomorrow, and an eternity, to face what I had done, to face what I shredded into pieces inside myself while Under the Mountain. But for now … for today … “Let’s go home,” I said, and took his hand.

Lalu sekarang gue fix akan melanjutkan baca buku selanjutnya untuk melihat Feyre yang sudah menjadi High Fae, ditambah harapan kemunculan Rhysand yang semakin banyak. Tunggu post selanjutnya! =)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s