Review Buku #37 – The Distance Between Us (2013)

Feelings, you will perhaps learn one day, can be the most costly thing in the universe.

Cinta sekali lagi membutakan status dan materi. Walaupun niatnya begitu, tapi bagaimana jika ternyata perbedaan materi tersebut tetap memaksa untuk berperan penting dalam berlanjutnya suatu hubungan?

Terlahir di keluarga yang miskin tidak membuat Caymen Meyers mengeluh. Caymen tahu bahwa ibunya selama ini bekerja keras demi dirinya. Caymen tidak peduli dengan kuliah dan masa depannya. Caymen tidak tahu impiannya nanti menjadi apa. Ia hanya tahu bahwa suatu hari dIrinya akan melanjutkan usaha toko boneka yang selama ini menafkahi keluarga kecilnya itu. Walaupun sebenarnya ia tidak pernah sepenuh hati dengan usaha keluarganya tersebut. Masa lalu ibunya membuat Caymen selalu berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan seseorang, terutama orang yang berdompet tebal. Ibu Caymen hamil ketika masih muda dengan pria kaya dan orang tuanya yang merasa malu mengusirnya. Begitulah cerita yang selama ini diceritakan ibunya. Hanya mempunyai 1 sahabat tidaklah masalah. Ia tidak mau fokusnya pada toko boneka kecilnya teralihkan. Tapi pikirannya mulai goyah ketika ia bertemu dengan Xander Spence, pria yang sudah jelas tidak akan pernah disukai ibunya.

Because you know everything is going to be okay. This is like the calm after the storm. Everything has settled, and even though it left destruction in its wake, you know the worst is over.

Mereka bertemu pertama kali di dalam toko boneka. Dilihat dari penampilannya, Caymen tahu bahwa Xander adalah tipe anak orang kaya yang tidak pernah merasa kesusahan. Dari kesan itu saja, Caymen sudah tidak ada niat untuk mengenal lebih jauh. Harusnya sih seperti itu. Tapi entah kenapa Caymen terus melihat sosok Xander. Tidak banyak orang yang bisa tertawa dengan humor payahnya dan tahan dengan kebiasaan sarcasm dirinya. Xander yang setiap pagi selalu menyempatkan diri untuk menemaninya berjalan kaki ke sekolah. Xander yang tanpa Caymen sadari selalu dicari keberadaannya. Tapi Caymen ingat bahwa status keluarganya tidak sebanding dengan keluarga Xander. Bagaimana cara memotong jarak antara mereka tanpa harus tersandung banyak batu di perjalanan?  Sepertinya pekerjaan Caymen bertambah satu.

“I’ve needed my morning hot chocolate, but someone got me addicted to it then took it away.”
“Is that your subtle way of saying you missed me last week?”
“I’ve missed hot chocolate. I just think of you as the guy who brings it to me. Sometimes I forget your name and call you hot chocolate guy.”

Gue lumayan terhanyut hingga pertengahan cerita. Walaupun cuma kesalahpahaman, tapi gue ikutan merasa nyesek saat Caymen sakit hati ketika melihat foto Xander dengan cewek lain. Gue suka dengan setiap kegiatan “Career Day” yang dilakukan. Terutama saat Xander yang diperlihatkan oleh Caymen bagaimana rasanya menggali tanah kuburan. Mereka yang bercanda dengan bebas sempat membuat gue lupa tentang jauhnya jarak status masing – masing. Oh jangan lupakan hobi menyindirnya Caymen yang membuat cerita di buku ini menyenangkan.

Minusnya hanya di penghujung cerita. Memang sih endingya tidak sesuai dugaan. Tapi endingnya terlihat maksa dan terkesan “harus bahagia pokoknya”. Ugh awal yang bagus terhempas begitu saja karena penutup yang membosankan. Nothing much that i can say here.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s