Review Buku #38 – On The Fence (2014)

on_the_fence

It was a game of bluff. If one person did it, the rest had to do
something stupid as a punishment. If nobody did it, everyone was safe.

Kisah ini tentang gadis tomboy yang hidupnya selalu berdasarkan pendapat para pria di keluarganya, karena mereka sangat berharga bagi dirinya. Dan pria yang selalu menemuinya di pagar mungkin adalah alasan kenapa ia sekarang ingin untuk keluar dari zona nyaman.

Menurut peraturan ayahnya, umur 16 tahun adalah saat dimana Charlotte Reynolds sudah diperbolehkan punya pacar. Tapi Charlie, panggilannya, tidak yakin kalau ada yang menyukainya. Alasannya simple. Charlie tomboy. Sangat tomboy. Ia menyukai olahraga dan semua permainan yang bisa dilakukan pria. Karena ibunya meninggal saat Charlie masih kecil, ia tumbuh besar dengan dikelilingi ayahnya dan tiga saudara laki – laki. Tidak pernah sedikitpun ada unsur kewanitaan menempel di dirinya, seperti makeup dan baju girly. Charlie bahkan tidak punya teman perempuan di sekitarnya. Setiap hari Charlie hanya bergaul dengan saudaranya—Jerom, Nathan, dan Gage— dan Braden. Braden sudah menjadi tetangganya selama 12 tahun dan seperti saudara keempatnya. Karena hanya ada pria di sekelilingnya, sifat Charlie menjadi cuek, dingin, dan keras kepala.

Musim panas datang namun Charlie tidak bisa bebas dan bermain sepuasnya. Ayahnya menyuruhnya mencari pekerjaan untuk membayar semua tagihan pelanggaran lalu lintas yang selalu ada karena Charlie. Begitulah asal mula Charlie yang terpaksa bekerja di toko baju. Charlie merasa risih karena di tempat kerjanya ia tidak boleh memakai baju kesehariannya yang tidak mengeluarkan aura perempuan. Karena ia tidak mau ditertawakan oleh 3 + 1 saudaranya, Charlie berangkat dengan bajunya yang biasa dan berganti pakaian di tempat kerja. Charlie juga menyembunyikan tentang dirinya yang dijadikan “kanvas” untuk pelajaran make up di tempat kerjanya. Karena bayarannya menggiurkan, ia tidak bisa menolak.

I loved him so much it hurt. It hurt because I knew he couldn’t love me back the way I needed him to. And I was going to have to learn to live with that, because I couldn’t lose him. I would have to be happy with whatever part of Braden I could have.

Sebenarnya Charlie merasa bersalah pada saudaranya karena ia harus berbohong pada mereka.Tapi Charlie tidak suka dengan penampilannya setelah memakai riasan yang membuat dirinya mirip dengan ibunya. Selama bertahun – tahun tidak pernah nama ibunya disebutkan di lingkungan keluarganya. Charlie setuju dengan kebiasaan itu karena ia tidak mau melihat ekspresi sedih di wajah keluarganya. Charlie juga tidak suka setiap ada orang yang memakai ekspresi “turut bersedih” dan mengasihaninya karena tidak punya ibu. Walaupun ibunya sempat bersamanya hingga umur 6 tahun, Charlie tidak punya ingatan apapun tentangnya. Charlie hanya melihat sosok ibunya dari foto dan mimpi buruknya setiap malam. Alasan lainnya kenapa Charlie selalu berolahraga agar dirinya merasa sangat lelah saat tidur hingga ia tidak bermimpi. Bahkan Charlie selalu berlari berjam – jam jika itu bisa membuatnya tidak bermimpi. Charlie selalu bermimpi melihat ibunya yang menangis, terluka dan kondisi menyedihkan lainnya.

Charlie tidak pernah menceritakan masalah tentang ibunya pada siapapun. Tapi saat Charlie dan Braden berada dalam “kehidupan lain di pagar”, bebannya berkurang dan ia bisa bercerita tentang ibunya. Kebiasaannya untuk bertemu Braden di pagar pembatas antar rumah mereka tersebut baru berjalan tidak lama ini. Hampir tiap malam, saat ia tidak bisa tidur dan butuh teman mengobrol, Charlie selalu memanggil Braden untuk bertemu dengannya di pagar. Mereka biasanya selalu usil dan saling mengejek. Tapi saat bertemu di pagar, mereka bertingkah tidak seperti biasa. Charlie menjadi lebih kalem dan mau menceritakan keluh kesahnya. Sedangkan Braden, tidak Charlie duga, ternyata bisa menjadi pendengar yang baik. Semenjak pertemuan di pagar itu, Charlie merasakan ada perasaan yang perlahan muncul terhadap Braden. Tapi di saat Charlie mulai sadar perasaan apa itu, dirinya dihadapkan dengan kebohongan yang selama ini disembunyikan oleh orang – orang dekatnya. Pertanyaannya adalah apa Charlie sudah siap menerimanya atau belum.

“Aren’t we supposed to do this at the fence?”
“No. I don’t want this to be in our alternate reality. I want this to be in our real one.”

Kenapa Braden saat cemburu membuat gue senang ga karuan? Kenapa juga saat Charlie menangisi si Braden gue ikutan nyesek? Soalnya si author bisa menceritakan kehidupan tokoh dalam buku dengan baik. Dari soal hubungan Charlie dengan 3 + 1 saudaranya hingga sisi tomboynya. Feelingnya dapat dan gue ngga tahu mesti bagaimana saat waktunya bertemu halaman terakhir. Gue demen saat Braden menunjukkan bahwa dirinya menyukai Charlie bagaimanapun sifatnya. Ia tidak peduli dengan kebiasaan mengorok Charlie saat tidur atau sifat keras kepalanya. Tokoh macam Braden memang selalu ada tempat sendiri di daftar “jenis boyfriend yang layak”.

Braden studied my face. “Oh, great. You’re terrified. If you’re scared, how am I supposed to feel?”
“I already told you to stop reading me.”
“I can read you because I know you better.”
“In your dreams.”
“Yes, you’ve been there, too.”
I backhanded him across the stomach, but couldn’t help but smile.

Oh great. Cerita Kasie West kali ini lebih bagus dari buku sebelumnya yang berjudul The Distance Between Us. Walaupun gue hampir jingkrak – jingkrak ketika ada moment dimana salah satu toko yang dimasuki Charlie untuk mencari pekerjaan adalah tokoh bonekanya Caymen. Terlihat jelas Caymen dan Xander tetap bersama dan toko bonekanya tetap lanjut. :’)

Tipe cerita romance yang seperti inilah yang menjadi alasan gue tetap memasukkan buku Kasie West dalam daftar TBR.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s