Review Buku #39 – Without Merit (2017)

without_merit

Not every mistake deserves a consequence. Sometimes the only thing it deserves is forgiveness.

Jika dilihat dari pandangan orang luar, selain tinggal di gereja-yang-dirombak-jadi-rumah, mungkin keluarga Voss seperti keluarga pada umumnya. Rumah yang terlihat ramai karena ditempati ayah, ibu dan anak – anaknya. Tapi orang luar tidak tahu kalau penghuni rumah tersebut saling menyimpan rahasia.

Keluarga Voss terdiri dari Barnaby sebagai ayah dan dua Victoria sebagai ibu. Istri pertama yang sudah diceraikan dan istri kedua sebagai pasangan baru sang ayah. Nama mereka berdua yang sama anggaplah sebuah kebetulan. Lalu 4 anak mereka dari tertua hingga paling bungsu adalah Utah, Honor, Merit dan Moby. Rumah tersebut juga dihuni oleh adiknya Victoria bernama Luck dan Sagan, seorang pria yang terpaksa tinggal disana karena keadaan keluarganya yang sulit dibicarakan. Mereka semua tinggal di satu atap yang sama. Gereja yang tiap ruangannya dirombak menjadi ruangan pada rumah umumnya, terbagi menjadi 4 quarter yang sudah termasuk basement. Walaupun dibilang sudah dirombak, tapi masih ada patung Yesus terpajang di dalam rumah dan sulit dipindahkan karena ukurannya yang besar.

I have a feeling my tolerance won’t be as intolerable now, because misery loves company and the thing I am looking at is most definitely miserable.

Karena keteledorannya sebagai kepala keluarga, Barnaby tidak sengaja menghamili pengasuh dari istri pertamanya dan kemudian menikahinya. Istri pertama Barnaby masih tinggal di atap yang sama. Karena penyakit kankernya, ia tidak pernah keluar dari basement selama bertahun – tahun. Sebagai anak tertua, Utah yang paling terlihat seperti “anak emas”. Prestasi sekolah yang bagus dan sudah mempunyai rencana matang untuk masa depan. Honor dan Merit, walaupun kembar, perilaku dan kebiasaan mereka bertolak belakang. Honor yang terkenal di sekolah dan mempunyai banyak teman dan Merit yang selalu terlupakan. Honor yang sudah kehilangan virginnya dari pacar pertamanya dan selalu percaya diri dengan penampilannya, sedangkan Merit yang masa bodoh dengan penampilannya dan dianggap selalu membawa masalah. Moby yang selalu disayangi oleh 3 kakak tirinya. Luck yang sudah jadi paman dengan 4 keponakan di umurnya yang masih 20 tahun dan mempunyai buku catatan tentang 332 sex yang pernah dilakukan, angkanya tentu masih bisa terus bertambah. Serta Sagan, pria yang selalu menggambar lukisan random dan penuh tato hanya di lengan kirinya.

Begitulah penjelasan sekilas penghuni rumah Voss yang ramai tersebut.

“I need to put the dirt back on his grave so no one is suspicious,” Sagan says.
“You’re getting really good at this criminal life,” I tease.
Sagan grins and closes the back door to the van. “Do you find hardened criminals attractive?” He raises his brow, and the obvious flirtation has my heart spinning in my chest.

Tokoh utama dari cerita ini adalah Merit. Keluarganya tidak tahu kalau sebenarnya Merit sudah berminggu – minggu tidak datang ke sekolah. Merit mempunyai hobby untuk menambah koleksi piala di kamarnya jika terjadi peristiwa buruk dalam hidupnya. Misalnya saat mantan pacarnya putus dengannya atau saat ayahnya menikah lagi. Merit bertemu dengan Sagan ketika dirinya sedang mencari piala bekas di sebuah toko. Karena Merit menyukai sesuatu yang tidak biasa, Merit pun merasa tertarik dengan pria asing yang tersenyum terus menerus padanya itu. Bahkan ia merasa terbuai ketika mereka berciuman. Tapi ternyata pria itu salah mengenalinya sebagai Honor. Setelah Merit mengetahui namanya adalah Sagan dan ia tinggal kamar tamu rumahnya, perasaan Merit semakin besar dan membuatnya tidak tenang. Setiap hari bertemu dengannya membuat Merit memikirkan banyak kemungkinan indah jika bersama Sagan. Tapi tidak mungkin Merit merebut pacar saudaranya.

Banyak masalah yang terus datang dalam hidupnya. Merit membenci ayahnya dan ibu barunya. Merit membenci ibu kandungnya karena penyakitnya. Merit membenci berada di ruangan yang sama dengan dua kakaknya, karena mereka sendiri juga tidak pernah suka dengannya. Ketika Merit merasa kedatangan Luck mungkin bisa meringankan masalahnya, ternyata Luck juga membohonginya. Saat Sagan memarahinya dan pergi dari hadapannya, Merit merasa hidupnya sudah tidak akan tertolong lagi. Ia marah dengan seisi rumah yang memperlakukannya seperti nobody. Lalu dalam keadaan stressnya, Merit menulis semua kebenciannya beserta rahasia mereka yang selama ini ia simpan sendirian. Dalam satu malam, seisi rumah saling mengetahui aib masing – masing. Sekarang tinggal bagaimanakah keluarga Voss akan bertahan menghadapi badai yang selama ini bersembunyi.

“Everything you do is weird,” he says. But before I can reflect too much on that comment, he says, “It’s my favorite thing about you.”

Kalau gue ditanya tentang satu kata apa yang cocok untuk menggambarkan buku ini, gue akan menjawab exceptionally. Hingga kalimat terakhir, banyak perasaan campur aduk yang gue alami. Latar belakang keluarga dan masalah yang dibuat oleh CoHo sungguh menarik. Gue tidak bisa lepas begitu saja dari setiap rangkaian kalimat dalam buku. Faktor itulah yang membuat CoHo sebagai salah satu author spesial bagi gue semakin kuat.

Keluarga Voss terkenal dengan gossip tidak baik semenjak mereka menjadikan sebuah gereja sebagai rumah. Well, itu ada ceritanya sendiri. Seiring berjalannya cerita, rahasia keluarga Voss perlahan terbongkar. Jika gue sebagai Merit, gue juga tidak yakin bisa menahan beban besar tersebut. Tidak heran jika Merit mengalami gejala stress dan harus terapi. Gue merinding parah saat malam dimana Merit membeberkan semua rahasia, terutama rahasia Utah. Eh buset si Utah, perannya parah banget. Awalnya gue suka dengan peran Luck yang support ke Merit. Walaupun gue sempat tidak rela saat Merit mau melepaskan virginnya ke Luck. Untungnya tidak jadi karena Luck masih sadar posisinya. Tapi tetap saja, kebohongan Luck membuat Merit (serta gue) nyesek. Dari semua moment sedih dan buruk dalam hidup Merit, gue bersyukur ada Sagan di sisinya. Pikiran Sagan sudah dewasa di umurnya yang masih 19 tahun. Sagan tidak mau mengambil keuntungan dari Merit yang menganggapnya sebagai “zona pelarian yang nyaman” dari masalah yang dialami Merit. Meskipun Sagan tahu tentang masalah mental Merit, Sagan tetap menyukai Merit dan mendukung Merit agar bisa sembuh.

It annoys me when people try to convince other people that their anger or stress isn’t warranted if someone else in the world is worse off than them. It’s bullshit. Your emotions and reactions are valid, Merit. Don’t let anyone tell you any different. You’re the only one who feels them.

Kesimpulan baik yang bisa gue petik dari buku ini adalah tentang setiap masa stress yang dialami tiap orang berbeda. Bukan karena parahnya masalah yang dihadapi, tapi tingkat pengalaman tiap orang tersebut dalam bertindak untuk lepas dari gejala stress. Jika kamu jatuh dalam kondisi stress, itu tidak membuatmu sebagai orang lemah. Kamu hanya harus terus mengoreksi diri apa yang salah dan bertindak. Gue puas dengan cara CoHo menyampaikan bagian penyelesaian dari cerita ini. Ending yang bahagia dan membuat gue lega. This story is my favorite book again from CoHo. =)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s