Review Buku #108 – To Kill a Kingdom by Alexandra Christo (2018)

To Kill a Kingdom - Alexandra Christo

This humanity has transformed me in a way that is so much deeper than fins for legs and scales for skin.

Seorang siren dengan reputasinya yang hanya mengincar hati pangeran dan seorang bajak laut yang terkenal sebagai pemburu siren. Mereka bertemu namun si bajak laut tidak mengenal mangsanya tersebut. Mereka bertemu namun si siren berpura – pura berpihak pada pemburunya tersebut sambil menunggu waktu yang tepat untuk menusuk dari belakang.

Kerajaan Keto dipimpin oleh Sea Queen yang menguasai lautan dan isinya. Sebagai putri yang nantinya akan menjadi pewaris kerajaan Keto, Lira selalu berusaha untuk menunjukkan dirinya mampu menjadi Sea Queen selanjutnya. Namun ibunya selalu mencari kesalahan pada dirinya dan menganggap Lira tidak layak.
Setiap tahun, di hari ulang tahunnya, Lira selalu memikat pangeran dengan nyanyian dan kemudian mengambil hatinya. Sudah 17 hati yang ia kumpulkan dan setiap hati tersebut membuat dirinya semakin kuat. Saat Lira mengambil hati pangeran sebelum hari ulang tahunnya dan tidak sengaja membunuh mahluk laut sesamanya, Sea Queen marah dan menghukumnya. Lira harus mengambil hati seorang pangeran dalam wujud manusia, dan jika gagal maka nyawanya sendiri yang hilang.

Sebagai pangeran yang diharapkan menjadi raja kerajaan Midasan, Elian sebenarnya tidak begitu menyukai posisi tersebut. Sejak masih muda, Elian sadar bahwa hidupnya berada di lautan. Elian pun menjadi bajak laut sekaligus pemburu siren. Kebanyakan harinya Elian habiskan di lautan bersama kapal Saad dan awak kapalnya yang tidak diragukan lagi kesetiaannya.
Saat Elian mendengar tentang sahabat dekatnya dibunuh oleh Prince’s Bane, seorang putri siren yang mematikan, kebencian Elian pada siren semakin kuat. Elian pun berambisi untuk mencari The Second Eye of Keto yang mempunyai kekuatan besar untuk membunuh Sea Queen dan semua siren. Apapun akan Elian korbankan, termasuk kebahagiaan hidupnya.

How strange that instead of taking his heart, I’m hoping he takes mine.

Buku ini adalah retelling kisah little mermaid tapi dengan unsur yang lebih gelap. Dari kalimat paling pertamanya : “I have a heart for every year I’ve been alive”, gue sudah tahu kalau buku ini akan membuat gue terhanyut hingga akhir.

Ada dua POV disini yaitu Lira dan Elian. Pikiran mereka begitu kontras dan menarik sekali.
Isi pikiran Lira pada Elian : “Jadi seperti ini rasanya berdiri dengan dua kaki. Jadi seperti ini suasana di daratan dan OH, Elian terus mengawasiku. Jangan Elian pikir dia bisa menyentuhku atau bersikap santai denganku. Jangan dia pikir senyumannya yang hangat itu bisa meluluhkan hatiku. Perhatikan langkahmu Elian, karena aku akan membunuhmu dan aku bisa kembali ke lautan. Tapi mungkin tidak masalah jika rencanaku sedikit diundur, karena mungkin hanya kali ini saja aku bisa merasa bebas dari tuntutan Sea Queen. Tapi, oh tolonglah Elian, jangan terus memperlakukanku seperti aku juga seorang manusia. Kamu belum tahu kalau aku siren yang kamu incar nyawanya.”
Kemudian isi pikiran Elian pada Lira : “Aku tidak bisa percaya dengan perempuan ini karena tingkahnya aneh dan asal usulnya tidak jelas. Karena aku tidak bisa melepaskan pandangan dari Lira, bukan berarti aku tertarik dengannya. Aku hanya harus memperhatikan gerak geriknya. Karena kalau dia ternyata penipu, aku harus membunuhnya duluan. Tapi mungkin tidak masalah jika aku memperhatikan bagian lain dari Lira, seperti mata birunya yang menarik atau rambutnya yang–“
Yep. Yup. Siren + Pirate. Slow-burn romance. Ada sejumlah witty-banter di antara mereka dan gue merasa masih kurang. Namun saat mereka sudah BAM BOM BUM, ketidaksabaran gue akan mereka langsung hilang. Gue malah berharap ada cerita tambahan tentang petualangan mereka setelah menjadi pasangan. Gue berharap buku ini bukan standalone T_T

To put so many people in danger would be monstrous. And yet, one look at Lira’s pleading eyes, and I know that’s exactly what I’m going to do.
I drop my hand and look to the ground, disgraced.
By falling for a monster, I have become one for her.

Ada buku standalone yang harus mempercepat alur cerita dan mempersingkat penjelasan konsep dunianya, akhirnya pembaca jadi kurang connect dengan kisah yang disampaikan. Tapi gue tidak merasakan feeling itu di buku ini. Alur cerita To Kill a Kingdom mempunyai ritme yang seimbang, tidak lambat dan tidak cepat juga. Konsep dunianya dijelaskan dengan jelas dan pendalaman karakternya bisa dimengerti, bahkan membuat gue tertarik dengan karakter sampingannya. Bagian aksinya menegangkan dan padat. Lalu endingnya dibungkus dengan superb dan gue sangat luar biasa puas. It’s perfect and I think I’m falling in love with this story.

Kalau kalian tidak memasukkan buku ini dalam daftar TBR, kalian pasti akan menyesal. Siapa yang rela melewatkan cerita fantasy yang unik seperti ini?
Gue menantikan buku selanjutnya dari Alexandra Christo arghhh

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s