Review Buku #111 – War Storm ‘Red Queen 4’ by Victoria Aveyard (2018)

war storm - victoria aveyard

Lightning has no mercy. Neither do I.

Pengkhianatan yang dilakukan Cal membuat Mare sakit hati. Semua janji dan kalimat cinta di antara mereka lepas begitu saja saat Cal memilih takhta dibandingkan Mare. Namun pilihan yang diambil Cal itu tidak membuat Mare melupakan tujuannya. Bersama dengan Monfort dan Scarlet Guard, mereka berencana untuk menggagalkan perjalanan Cal menjadi raja Norta. Namun sebelum itu, mereka harus bekerja sama dengan Cal untuk menghadapi musuh yang sama.

Untuk bersiap melawan Maven, Cal sangat membutuhkan bantuan pasukan dari Monfort yang banyak terdiri dari Newblood. Tapi Monfort bukanlah negara seperti Norta atau Lakelander. Monfort adalah negara yang tidak mempunyai raja atau ratu. Negara dimana Silver, Red, dan Newblood hidup bersama dengan derajat yang sama. Semua keputusan yang diambil di Monfort harus melalui persetujuan dari para wakil publik yang dipilih oleh rakyat. Di balik rencana Davidson mengajak Cal dan rombongannya datang ke Monfort untuk bertemu politikus Monfort, Davidson sebenarnya ingin menunjukkan pada Cal bahwa sistem negara Monfort mempunyai potensi yang baik dan dapat diterapkan ke Norta.

Sepanjang hidupnya Evangeline dididik untuk menjadi ratu. Orang tuanya tidak peduli betapa kotornya jalan yang diambil asalkan Evangeline mendapat posisi tinggi. Tapi sebenarnya Evangeline sudah lelah dengan tuntutan yang ada. Evangeline hanya ingin menghabiskan waktunya bersama Elane dan hidup berbahagia dengan perempuan itu. Tapi hubungan sesama jenis bukanlah hal yang mudah di mata Silver. Kemudian saat Evangeline datang ke Monfort dan melihat betapa bebasnya kehidupan di tempat tersebut, muncul keinginan pada dirinya untuk kabur dari belenggu keluarganya dan tinggal di Monfort bersama Elane. Tapi sebelum itu Evangeline harus bekerja sama dengan Mare untuk menggagalkan rencana pernikahannya dengan Cal.

All the death and destruction I’ve seen or caused. My broken heart, still bleeding inside me. The unending fear for the people I love, and the people I want to save. It all remains, a constant weight.
But I won’t let it drown me.I can still hope too.

Di sisi lain, dengan Iris yang menikah dengan Maven, statusnya pun berubah menjadi ratu Norta. Tapi kedatangannya ke Norta tidaklah murni untuk menyelesaikan perang antara Norta dan Lakelander yang sudah berlangsung sejak dulu. Ditambah lagi saat ayahnya meninggal saat perang melawan musuh Norta, keinginan Iris untuk menusuk Maven dari belakang semakin kuat. Tapi untuk sementara Iris akan bermain lemah hingga waktunya untuk menghancurkan Maven datang.

Hubungan Cal dan Mare sudah tidak seperti biasa lagi. Tapi keinginan terpendam mereka masihlah sama. Mereka masih merindukan sisi Maven yang baik dan berharap Maven berubah menjadi lebih baik. Setelah mengetahui kalau pikiran Maven selama ini dimanipulasi oleh ibunya, Cal ingin mencari seorang Newblood yang mempunyai kemampuan whisper seperti ratu Elara. Tapi Mare tidak mau berharap tinggi seperti Cal. Mare tahu Maven tidak akan bisa “diperbaiki” lagi dan perasaan bencinya pada Maven suatu saat bisa berujung tidak baik.

All we did to get here, in the middle of the end of his world. I lied and was lied to. Betrayed and was betrayed. I hurt people, and so many people hurt me.

So that’s it? This story ended like that? Bayangkan kalian mempunyai harapan yang sangat tinggi dan harapan itu terus terbayang di setiap langkahmu. Kemudian hanya karena satu orang berkata “tidak”, harapan itu dengan mudahnya lepas dan kalian pun meratapi puing – puing yang tersisa. Yep kondisi gue setelah membaca War Storm adalah seperti itu.

Maven adalah satu – satunya hal yang membuat gue melanjutkan membaca serial Red Queen ini. Somehow, gue berharap Mare akan berakhir bersama Maven. Tapi gue tahu kalau ada 99% kemungkinan mereka tidak akan pernah bersama. But I still damn love this villain.
Sepanjang cerita War Storm, tepatnya dari buku sebelumnya, gue terus berharap Maven mendapat akhir yang baik. Ditambah lagi semenjak Maven mengutarakan perasaannya pada Mare dan ia menyinggung betapa beratnya dia menghadapi suara ibunya yang terus terngiang di pikirannya, kepedulian gue pada Maven semakin besar. Jadi gue berpikir karena ini buku terakhir, kita akan diberikan cerita dimana Maven terlepas dari sisi jahatnya. RUPANYA TIDAK. Maven memilih untuk mengikuti pikiran jahatnya dan terus berpihak pada ibunya. Maven tidak berubah sedikitpun dan gue kecewa dengan jalan cerita yang dipilih oleh si author. HE FCKING DESERVED TO BE HAPPY. IM ALMOST CRY JUST FOR HIM UGH SAVE ME.

Ada 5 POV yang dihadirkan dalam War Storm : Mare, Cal, Evangeline, Maven dan Iris. Suatu hal yang menarik melihat cara pandang mereka dan mengenal kepribadian mereka lebih dalam. Ada perasaan yang campur aduk dari dihadirkannya sejumlah POV itu. Misalnya gue jadi menyukai tokoh Evangeline karena sisi lembutnya terhadap Elane atau gue terus merasa nyesak di setiap kalimat yang muncul di Maven POV. Lalu menurut gue Iris POV itu paling tidak penting. Gue tidak begitu peduli dengan tokoh ini tapi Iris mendapat chapter yang lebih banyak daripada Maven. Sigh.

Kemudian mari berbicara tentang chapter epilog. Karena chapter epilog sangatlah digantung dan gue frustasi. Bagaimana bisa setelah perjalanan yang super panjang, epilognya berakhir seperti itu? Di twitternya, Victoria Aveyard berkata tahun depan ia akan membuat cerita pendek Red Queen dan cerita tambahan tentang dunia Red Queen. Sekarang gue berharap besar cerita baru itu akan memperjelas kelanjutan epilog.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s