Review Buku #112 – The Darkest Minds ‘The Darkest Minds 1’ by Alexandra Bracken (2012)

The Darkest Minds 1

I thought I had escaped the monsters, that I’d left them locked up behind an electric fence. But the shadows were alive, and they had chased me here.

Muncul wabah penyakit skala besar yang mengakibatkan banyak anak di bawah umur 17 tahun meninggal dan anak yang selamat dari wabah yang disebut IAAN itu rupanya mempunyai kekuatan super. Peristiwa besar itu menyebabkan situasi dan kondisi dalam berbagai aspek di segala tempat menjadi kacau. Ini adalah kisah tentang perjuangan anak – anak spesial tersebut bertahan hidup di dunia yang baru.

Sejak umurnya 10 tahun Ruby dipaksa masuk ke Thurmond, penampungan bagi anak berkekuatan spesial seperti dirinya. Mereka yang mempunyai kekuatan dikelompokkan menjadi 5 warna berbeda yaitu Green, Blue, Yellow, Orange dan Red. Awalnya mereka semua berada di tempat yang sama dan saling berbaur. Namun karena Yellow, Orange dan Red mempunyai kekuatan yang sangat berbahaya, anak – anak di kelompok itu dibawa pergi entah kemana dan tidak pernah kembali lagi.
Ruby selalu sulit mengontrol kekuatannya. Sehingga saat ia pertama kali tiba di Thurmond dan mengikuti pemeriksaan, Ruby tidak sengaja membuat pikiran dokter yang memeriksanya yakin kalau Ruby adalah Green. Ketidaksengajaan itu membuat dirinya tetap selamat. Sebagai Orange yang mempunyai kekuatan untuk memanipulasi pikiran, Ruby mungkin hanya Orange yang tersisa dan masih bertahan hidup.

Setelah 6 tahun merahasiakan kekuatannya di Thurmond, Ruby kemudian bertemu dengan Cate yang merupakan salah satu anggota Children League. Children League adalah kelompok pemberontak yang menentang pemerintahan baru dan berusaha menolong anak – anak berkekuatan spesial yang tersiksa oleh pemerintah. Ruby pun ditolong Cate dan dibawa keluar  dari Thurmond.
Ruby bisa mempercayai Cate tapi tidak dengan kenalan Cate lainnya yang Ruby temui. Saat menyentuh teman Cate yang juga termasuk dalam Children League itu, Ruby melihat penglihatan yang membuatnya takut. Karena tahu keselamatannya juga tidak terjamin bersama Cate, Ruby pun kabur dan saat itulah Ruby bertemu dengan tiga anak yang menjadi teman seperjalanannya kemudian.

“You’re not scared—not even a little?”
His battered face twisted with what I thought was supposed to be a smile. “I’m scared to death of you, but for a completely different reason.”
“I’m a monster, you know. I’m one of the dangerous ones.”
“No you aren’t,” he promised. “You’re one of us.”

Liam, Chubs dan Suzume. Pertemuan Ruby dengan tiga anak tersebut awalnya bukan dalam kondisi yang baik. Chubs sulit menerima keberadaan Ruby karena dengan adanya Ruby bersama mereka, kelompok kecil itu harus ikut kabur dari Children League. Namun Liam dan Zu merasa tidak masalah dan menganggap keberadaan Ruby dapat membantu mereka mencari Slip Kid.
Ada rumor mengenai keberadaan Slip Kid, seorang Orange yang memberikan tempat perlindungan bagi anak – anak berkekuatan spesial yang terlepas dari pemerintah. Mereka melakukan perjalanan mencari Slip Kid karena ingin meminta bantuan untuk menghubungi keluarga mereka. Ruby sendiri karena mendengar ada Orange selain dirinya pun berharap ia bisa meminta bantuan Slip Kid mengenai kekuatannya.

Seiring Ruby mengikuti perjalanan kelompok kecil itu, hubungan Ruby dengan mereka juga perlahan terbangun. Tapi Ruby tetap merahasiakan kekuatannya karena ia belum siap dengan respon yang muncul saat mereka tahu ada anak dengan kekuatan berbahaya di dekat mereka.

Ruby, give me one reason why we can’t be together, and I’ll give you a hundred why we can.

SOOOOO actually this is an okay book with super cliffhanger. Gue mau memperingatkan dahulu kalau alur cerita di bagian awalnya sungguh lambat karena gue sendiri sampai bosan. Gue berkali – kali memutuskan untuk tidak menyelesaikan cerita ini tapi karena adatapsi movienya rilis Agustus 2018, pada akhirnya gue tetap memaksakan diri untuk melanjutkan membaca. Oh gue lumayan bersyukur dengan keputusan yang gue pilih karena setelah melewati bagian awal yang membosankan itu, cerita seterusnya mengalir dengan menarik.

Hal yang paling gue sukai dari cerita ini adalah interaksi antara Liam dan Chubs. Kalian akan melihat senda gurau dan perselisihan menarik mereka yang sukses membuat gue tertawa. Persahabatan mereka sangat menyenangkan untuk disimak duh.
Lalu karakter kesukaan gue disini mungkin adalah Liam. Kenapa gue menyebutkan “mungkin” karena terkadang gue suka sekali dengan Liam dan terkadang tidak. Liam adalah karakter dengan sikap kepemimpinan dan sangat memperdulikan temannya. Ia selalu mengajukan dirinya maju duluan di setiap masalah karena rasa tanggung jawabnya pada orang dekatnya. TAPI hal dari sisi Liam yang kurang cocok di gue adalah dirinya yang sering mengeluarkan kata Darlin’ di setiap kesempatan. Gue merasa aneh melihat anak laki – laki umur 17 tahun yang mempunyai kebiasaan menggunakan kata itu duh. Tapi jika mengabaikan poin minus tersebut, Liam adalah tokoh dengan potensi swoonworthy dan gue merasa tersentuh dengan perasaannya pada Ruby.

Time to carpe the hell out of this diem.

Dengan Ruby yang akhirnya sudah bisa mengendalikan kekuatannya dan cliffhanger yang keterlaluan banget parahnya, gue siap melihat bagaimana cerita di buku keduanya nanti mengarah.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s