Review Buku #118 – The Kiss Quotient ‘The Kiss Quotient 1’ by Helen Hoang (2018)

The Kiss Quotient - Helen Hoang

I like you better than calculus, and math is the only thing that unites the universe.

Ketika seorang pengidap sindrom Asperger menyewa pria bayaran untuk mengajarinya sukses dalam berhubungan. Yang kemudian timbul perasaan nyaman dan mulai tarik mundur dalam garis di antara mereka.

Stella Lane. 30 tahun. Wanita dewasa dengan pekerjaan yang sukses dan berasal dari keluarga yang tidak kekurangan. Dari luar terdengar sempurna bukan? Tapi Stella mempunyai penyakit Asperger yang membuatnya sangat sulit bersosialisasi dengan orang asing yang artinya Stella juga tidak suka menjalin hubungan dengan pria. Namun ibunya ingin mempunyai cucu dan memaksa Stella untuk mencari pasangan secepatnya. Permintaan tersebut membuat Stella resah karena jika ingin mempunyai bayi ia harus mempunyai suami. Suami berarti pacar. Pacar berarti menjalin hubungan. Menjalin hubungan berarti ada sex.

Michael Larsen sudah menjadi male escort selama tiga tahun dan beragam wanita dari segala umur sudah menjadi kliennya. Michael tahu keluarganya akan kecewa berat jika mengetahui keputusan yang diambil olehnya. Tapi hanya ini jalan pintas dan cepat untuk memenuhi pembayaran pengobatan ibunya seorang diri setelah ditinggal pergi ayahnya. Selain itu, Michael sadar kalau apel tidak akan jatuh dari pohonnya. Michael merasa dirinya tidak layak untuk dicintai karena sifatnya buruk seperti ayahnya, jadi untuk apa memfokuskan perasaan pada satu wanita? Yang penting tagihan yang menumpuk terbayar dan hidup seksualnya terpenuhi.

“You don’t like French kissing?”
“It makes me feel like a shark getting its teeth cleaned by pilot fish.”

Stella menyewa Michael untuk mengajarinya sex karena keahlian Stella dalam berhubungan sex sangat buruk. Bukan berarti Stella masih virgin. Susahnya Stella dekat dengan orang membuat dirinya mengunci diri dan seperti mati rasa saat sedang melakukan sex. Stella tidak merasakan sensasi apapun dan karena itulah Stella mengecap dirinya tidak suka dengan sex.
Sedangkan saat Michael pertama kali bertemu dengan Stella, ia kaget kenapa wanita yang menarik seperti Stella butuh bantuannya untuk masalah sex. Namun saat Michael menyaksikan respon buruk Stella saat mereka hampir melakukannya, Michael tahu progressnya dengan Stella akan berbeda jika dibandingkan dengan klien wanitanya selama ini.

Akhirnya Stella mengajukan perjanjian baru untuk Michael. Stella ingin bertemu lagi dengan Michael agar diajari bagaimana perempuan normal dalam menjalin hubungan. Biasanya Michael tidak pernah memenuhi permohonan klien untuk bertemu lebih dari sekali, tapi pikirannya terus berteriak tidak mau jika Stella belajar berhubungan dengan male escort lain.

Dimulailah hubungan pembelajaran mereka yang kemudian perlahan tidak jelas dimana garis batasnya. Tapi Stella dan Michael menyimpan rahasia yang menjadi alasan besar mereka tidak bisa jujur dengan perasaan masing – masing.

“I’m very competitive.”
He brushed a kiss against her temple. “Okay, but how does that factor into anything?”
“It means I want to please you more than all your other clients have.”

OH MY FUCKING GOD. THIS BOOK. AWESOME. THE HOTNESS. I’M OBSESSED.
Gue tidak bisa berkata apapun atau memberi respon yang waras sepanjang gue membaca buku ini. Semua yang gue inginkan dalam cerita romance yang mature ada di dalam buku ini sehingga gue tidak bisa memberi komplain apapun.

Ini pertama kalinya gue membaca cerita romance dimana salah satu tokoh utamanya adalah penderita Asperger. Sekilas info saja, penderita Asperger sangat sensitif dengan bau, suara dan sentuhan. Jika penderita Asperger tertarik dengan satu hal, maka mereka akan sungguh – sungguh fokus pada hal tersebut bahkan hingga terobsesi. Mereka akan panik jika ada sesuatu yang tidak sama dengan rutinitasnya. Tapi penderita Asperger kurang mempunyai empati dan mereka cenderung ceplas ceplos tanpa melihat suasana dan perasaan orang sekitar. Hal tersebutlah yang dialami oleh tokoh utama dalam cerita ini sehingga Stella selalu berusaha menghindari berkumpul dengan banyak orang..

Gue menganggap ide menciptakan tokoh utamanya pengidap Asperger adalah hal yang menarik. Lalu saat gue membaca author’s note di akhir buku, gue baru tahu kalau pengarang buku ini juga mengidap Asperger. Karena itu kehidupan pengidap Asperger yang ingin ditampilkan oleh si pengarang berhasil menyentuh hati gue, DAN JUGA ADEGAN DEWASANYA.
Oh my goodness. Gue masih tidak menyangka ada author yang bisa mendapat pengakuan instant dari gue tentang cara merangkai kalimat dan membangun suasana intim dalam buku yang bergenre Adult Romance. Karena kebanyakan di luar sana jarang ada buku bergenre ini yang meninggalkan jejak mendalam. Biasanya hanya sekedar lewat dan kemudian gue lupakan ehe.

He swallowed once. “Could you say something, please? When a guy tells a girl he loves her, he doesn’t want silence in response. Was I too late? Are you over me?”
“Are you wearing the underwear I got you?”
Laughter cracked out of him. “Sometimes, the way your mind works is a complete mystery to me.”

Akhir kata, jika kalian sedang mood untuk cerita romance yang dewasa dan lebih banyak tension, buku ini super gue rekomendasikan.
Ooohh gue menemukan author favourite baru dan sekarang sangat menantikan cerita selanjutnya dari Helen Hoang ❤

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s