Review Buku #119 – They Both Die at the End by Adam Silvera (2017)

They Both Die at the End - Adam Silvera

Death is inevitable for everyone and it’s absolute for me today.

Ada sebuah aplikasi bernama Death-Cast yang secara akurat memberitahu kematian seseorang. Bagaimana jika setiap orang diperingatkan tentang hari kematiannya dan hanya mempunyai waktu kurang lebih 24 jam untuk membuat kenangan terakhirnya?

Mateo Torrez mendapat panggilan dari salah satu operator Death-Cast saat tengah malam. Mateo diberitahu kalau hari itu adalah hari terakhirnya hidup. Mateo merasa sedih dan takut karena ia merasa belum melakukan apa – apa untuk hidupnya. Terlebih lagi, jika ia meninggal pada hari itu, artinya Mateo tidak bisa menyampaikan selamat tinggal pada ayahnya yang sedang dalam keadaan koma. Ketika ayahnya terbangun, ia akan bertemu dengan dunia dimana Mateo telah tiada.

Rufus Emeterio juga mendapat panggilan dari Death-Cast namun Rufus tidak takut dengan kematian. Ia menghadapinya dengan normal dan bahkan langsung mengadakan pertemuan perpisahan dengan orang dekatnya. Hanya saja perpisahannya tidak berjalan dengan baik karena Rufus mesti kabur dari kejaran polisi. Rufus tidak bisa menghabiskan hari terakhirnya dengan orang yang ia sayangi.

Mateo dan Rufus sama – sama mengambil keputusan yang sama. Karena tidak ingin sendirian di hari terakhir, mereka mendaftarkan diri ke aplikasi The Last Friend yang merupakan tempat berkumpulnya para Decker–sebutan untuk orang yang mendapat panggilan dari Death-Cast– dan orang yang berbaik hati ingin menemani Decker. Mateo dan Rufus pun bertemu melalui aplikasi tersebut dan saling menjadi The Last Friend untuk satu sama lain.

It’s all going away, everyone and everything is dying. Humans suck, man. We think we’re so damn indestructible and infinite because we can think and take care of ourselves, unlike pay phones or books, but I bet the dinosaurs thought they’d rule forever too.

FYI I gave this book 3 stars on Goodreads. Bukan berarti buku ini jelek atau plot ceritanya membosankan. Tidak tidak. Sebaliknya banyak poin penting yang dijabarkan dan mudah diserap oleh pembaca. Hanya saja saat gue membaca cerita ini, ada sejumlah momen dimana gue berpikir “ini konyol”. Sejumlah yang gue maksud tidak hanya muncul 2 – 3 kali, tapi lebih dari angka itu. Kalian yang pemikirannya sama seperti gue akan mengerti saat membaca buku ini. Mungkin gue termasuk dari orang langka yang tidak memberi cerita seunik ini 4 – 5 bintang di Goodreads.

Tapi setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda dan mungkin saja kalian termasuk pembaca yang akan mencintai cerita ini. Karena pesan yang ingin disampaikan sang author sukses diceritakan dengan baik dan gue bahkan sempat nyesak dan menangis di beberapa bagian.

Singkatnya, cerita ini ingin membuat kita berpikir apa yang akan kita lakukan di hari terakhir. Apa kamu takut? Apa kamu menyesal dengan hidupmu? Apa kamu sudah mengisi hidupmu dengan benar dan tidak membuang waktu? Bagaimana rasanya jika kamu mempunyai rencana yang panjang untuk masa depan tapi terpaksa putus harapan karena hari terakhirmu? Apa yang akan terjadi di dunia ini dan orang – orang yang kita tinggalkan saat kita meninggal? Dan banyak pertanyaan lain yang membuat gue berpikir karena buku ini.

People have their time stamps on how long you should know someone before earning the right to say it, but I wouldn’t lie to you no matter how little time we have. People waste time and wait for the right moment and we don’t have that luxury. If we had our entire lives ahead of us I bet you’d get tired of me telling you how much I love you because I’m positive that’s the path we were heading on. But because we’re about to die, I want to say it as many times as I want—I love you, I love you, I love you, I love you.

Jika banyak pembaca lainnya yang heboh merekomendasikan buku ini, maaf gue tidak bisa. TAPI sebaiknya jangan terlalu terfokus pada satu review dan mengikuti saran orang tersebut. Cobalah berikan buku ini kesempatan karena buku ini termasuk salah satu cerita YA dengan nilai penting. Gue akui ini membuka pemikiran gue untuk berani berpikir tentang kematian. The book is very good; it’s just me.

Advertisements